Welcome

Assalamu'alaikum wr. wb. ..

Sabtu, 10 Maret 2012

Di Pundak Saya Masa Depan Bangsa


            Bangsa indonesia adalah bangsa besar, kebesaran bangsa Indonesia mencakup segala hal, kondisi alamnya yang subur, kekayaan hayati yang terhempas luas di laut bumi pertiwi, hingga mutiara-mutiara muda yang mempunyai kemampuan luar biasa sebagai sumber daya manusia di masa depan. Dari data terakhir mencatat jumlah penduduk Indonesia terhitung 31 Desember 2010 mencapai 259.940.857. Bisa dibayangkan jika kekayaan alam bumi indonesia jika dikelola dengan baik maka dengan jumlah sumber daya manusia sebanyak itu, untuk mengolah kekayaan yang dimiliki bangsa indonesia ini sudah lebih dari cukup. Jika itu diberdayagunakan semaksimal mungkin, tidak perlu untuk berharap apalagi bermimpi, karena sepululuh hingga dua puluh tahun lagi bangsa Indonesia akan menjadi penguasa adidaya dunia.

Jika berbicara usia bangsa Indonesia, sudah hampir 67 tahun bangsa ini terlahir dan merdeka dari penjajahan asing. Lebih dari tiga setengah abad bangsa ini haru mengemis dalam kekayaannya sendiri, sudah lelah masyarakat indonesia jika harus mengulangi hal yang sama di era demokrasi semacam ini. Bangsa Indonesia sudah hampir 67 tahun merdeka dari belenggu penjajahan kolonial negara asing, apakah benar kita sebagai masyarakat indonesia sudah menikmati kemerdekaan itu sampai sekarang ?. Merdeka secara hukum tapi ralitanya masih terjajah oleh imperialisasi asing, tidak heran jika kita temui banyak perusahaan-perusahaan asing yang mempunyai proyek saham di Indonesia, sedangkan perusahaan milik bangsa Indonesia sendiri terbengkalai, hingga sampai ada yang gulung tikar.

            Banyak kalangan tokoh politik dan kritikus bangsa beranggapan bahwa masih terlalu dini untuk memimpikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar atau jadi penguasa di bangsa-bangsa dunia. tetapi apa salahnya jika semua itu di impikan oleh penduduk Indonesia, khususnya bagi para pemuda bangsa sebagai penerus tongkat estafet masa depan bangsa. Jika kita lihat banyak sekali potensi alam yang terbentang luas di belahan seluruh nusantara, dari sabang sampai merauke semuanya mempunyai potensi alam yang melimpah, baik sumber daya pangan, sumber daya energi, maupun sumber daya wisata yang senantiasa menampakkan keelokan wajah bumi nusantara. Itulah indonesia, negeri yang kaya dan indah, namun entah mengapa hingga sekarang belum mampu mengolah kekayaannya dan keindahan alamnya sendiri, hingga untuk pengelolaannya saja masih sampai meminta bantuan pada negara asing.
“Berikanlah saya sepuluh pemuda, maka akan saya bawa bangsa Indonesia menuju peradaban dunia”.
setidaknya seperti itulah semangat yang disuarakan oleh bung karno untuk para pemuda bangsa.

            Siapa yang tidak mengenalnya, tentunya masih hangat dalam telinga kita tentang mobil esemka, siapa yang mampu menciptakannya, siapa yang berani berinovasi menciptakan krativitasnya melawan teknologi dunia, yaitu mereka para pemuda-pemuda bangsa. Mereka semangatkan dalam diri mereka masing-masing, jika bangsa lain pun bisa menciptakan teknologi semacam itu, pasti bangsa Indonesia pun jauh lebih bisa. Semangat pemuda sebagai pondasi utama dalam bangunan kebangsaan, tiang yang masih kokoh akan kuat menopang godaan dan terpaan angin-angin adidaya bangsa asing, semangat itulah yang dimiliki para pemuda bangsa, jika kita memandangnya lebih mengerucut, diantara pemuda-pemuda itu tidak lain kita juga merupakan bagian dari pemuda bangsa itu, yang akan meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa.

Tidak hanya produk esemka, terlalu banyak dan mungkin tidak akan ada habisnya jika kita membicarakan tentang berbagai prestasi anak bangsa indonesia, baik dikancah nusantara maupun dunia. Dari segi Iptek, sains, sosial, ekonomi banyak sekali prestasi yang dapat di raih oleh mutiara bangsa Indonesia.

Jika mereka bisa kenapa kita tidak bisa, motto itulah yang harus mulai kita tanamkan dalam diri kita masing-masing, semangat perjuangan dalam berkarya dan berinovasi dari berbagai macam kreativitas dan sub ilmu yang kita miliki, kita tuangkan kedalam bentuk karya dengan kemasan yang indah. Dari kita untuk mereka, dari mereka untuk kemajuan bangsa. Mulailah berinovasi dan berkreasi dari dalam diri kita sendiri, karena secara tidak langsung kreasi dan semangat yang kita munculkan dari dalam diri kita akan berdampak baik pula bagi orang-orang disekeliling kita, dari ruang lingkup kecil hingga akhirnya besar dan terus membesar, karena sebaik-baik manusia dimata Allah adalah yang bermanfaat bagi orang-orang disekitarnya.

Bukan lagi waktunya kita sebagai pemuda untuk selalu mengeluh atas apa yang bangsa berikan kepada kita, tetapi bangsa Indonesia lah yang seharusnya mengeluh kepada kita, apa yang sudah kita berikan kepada bangsa Indonesia. Jika kita lihat merah-putih hanyalah benda mati, tetapi akan hidup jika kita mau dan mampu untuk menghidupkannya dan mengibarkannya menuju langit dunia.

Kearifan lokal bangsa yang harus senantiasa dijaga, jangan selalu kita sebagai pemuda harus mengadobsi dari budaya-budaya asing yang mungkin secara tidak langsung akan melemahkan mental kita sebagai bangsa yang besar. Menumbuhkan sifat konsumtif dan mematikan potensi kita untuk selalu produktif dan aktif, jangan takut kita akan di hina oleh bangsa adidaya, sebenarnya merekalah yang akan takut jika kita tidak takut kepada mereka. Jika pemuda bergerak mengolah dan menciptakan karya yang dialokasikan kepada masyarakat Indonedia sendiri, maka kemana negara-negara adidaya itu akan memasarkan produk-produknya selain kepada bangsa Indonesia. Jika pemuda bangsa Indonesia sudah mampu untuk mengidupi masyarakat indonesia dengan karya anak bangsa, maka tidak perlu lagi kita membelinya dari negara asing. Memaksimalkan potensi bangsa untuk perkembangan dan kemajuan bangsa itu sendiri.

Pemuda bangsa yang visioner terhadap bangsa indonesia, berkarya demi kemajuan bangsa, dengan semangat yang masih membara pada jiwa-jiwa muda bangsa. Perlu di mengerti dan di pahami, bahwa dalam jiwa kita, diatas pundak kita masing-masinglah bangsa Indonesia ini akan kita bawa, di tangan kita pulalah tongkat estafet bangsa ini akan kita bawa lari menuju garis kemerdekaan bangsa yang sebenarnya. Niscaya jika ingin menjadi suatu bangsa yang besar di dunia, bangsa Indonesia tak perlu lagi bermimpi, pemuda bangsanya lah yang akan mewujudkan semua mimpi-mimpi para pahlawan bangsa, menuju dan akhirnya menjadi bangsa yang kokoh berdiri dalam singgasana dunia.

Man jadda wajada, bangsa Indonesia akan bisa jika kita berani bergerak, berusaha, dan berkarya untuk Indonesia.

Senin, 06 Februari 2012


Ikhlaslah menjadi tanah

Tanah adalah komponen utama yang menyelimuti seluruh bagian bumi sebagai pijakan makhluk hidup diseluruh dunia. Jika kita lihat sebongkah tanah yang lembek jika terkena terik matahari dan derai tiup angin lama kelamaan akan mengering, menjadi seperti apa yang menjadi wujudnya ketika ia basah, dan tak akan berubah bentuk dan wujud kecuali ada sentuhan makhluk disekitarnya. Sampai kapanpun tanah akan tetap menjadi tanah dan tak akan berubah menjadi yang lain, kecuali kehendak dari yang menciptakan tanah.

Jika kita melihat keramik yang mempunyai nilai estetis keindahan yang tinggi pasti mempunyai nilai jual yang tinggi pula, dan karena hal tersebut keramik itu dapat laku dipasaran. Keramik yang baik dan mahal dibentuk karena keuletan dan kerja keras dari terpaan tangan pengrajin yang membuatnya, dengan sabar dan lembut membentuk tanah liat yang basah menjadi sebuah keramik yang memiliki nilai estetis yang ‘wah’.

Sebelum menjadi barang yang ‘wah’, sebagai seorang tanah liat, ia tetap istoqomah untuk menjadi tanah liat dan tidak pernah mengeluh atau mungkin ingin berubah menjadi sebatang pohon besar. Walaupun ia dijatuhkan, dilempar, dibanting, atau bahkan di pisah-pisah dari bagian yang lain oleh si pembuat keramik, tanah tetap tulus dan ikhlas menerima terpaan dan polesan yang dilakukan oleh sang pengrajin kepadanya, karena ia tahu bahwa ia akan menjadi barang yang lebih bermanfaat daripada sebidang tanah yang hanya sebagai injakan dan pijakan kaki manusia dan makhluk-makhluk disekitarnya.

Jika (hanya) dari tangan manusia saja, tanah liat mampu dibuat menjadi barang yang sangat baik dan indah, Bagaimanakah jika tangan Allah yang menerpa dan memoles tanah itu, pastilah seburuk buatan Allah adalah sebaik keramik buatan manusia.

Kadang kita mengeluh atas kehidupan kita sebagaia manusia di dunia, entah kenapa setiap penyesalan selalu datang pada waktu yang telat. Dan kenapa Allah meletakkan penyesalan selalu pada bingkai akhir dalam setiap peristiwa dan permasalahan, tentunya setelah kita melakukan sebuah kesalahan, baik sekecil kesalahan maupun sebesar kesalahan yang pernah kita sebagai manusia perbuat, lantas kita berpikiran bahwa langkah pencegahan dari Allah kepada manusia tidak ada.

Coba kita manusia ibaratkan diri kita dengan keramik buatan tangan manusia, jika kita adalah keramik, maka manusia adalah tuhan. Sebaik-baik dan seindah tanah liat adalah yang diolah menjadi barang yang berguna. Jika kita keramik maka kita sebelumnya adalah tanah, sebongkah tanah yang tak bermanfaat. Ketika manusia dalam membuat sebongkah tanah liat basah itu, maka manusia akan membentuk kita menjadi berbagai macam bentuk, ada yang hanya menjadi handycraft biasa, ada yang menjadi batu bata, dan juga ada yang menjadi sebatang keramik yang indah.

Apa yang dapat kita pahami dari hal itu, tangan Allah Adalah ‘ujian’ yang ditimpakan pada kita (manusia yang diciptakan dari tanah), semakin banyak kita ditimpa ujian maka semakin halus pula pribadi kita untuk menjadi sebuah keramik yang bagus, setiap ada goresan (keburukan dan dosa) pada keramik yang masih basah, Allah selalu memolesnya kembali menjadi halus, semakin kita tulus dan ikhlas menerima terpaan tangan Allah SWT, semakin bagus pula bentuk pribadi kita didunia, semakin di butuhkan pula sosok kita dalam pasar kehidupan dunia. Dan jika kita memang layak menjadi sebuah keramik yang indah, niscaya Allah akan memasang kita sebagai hiasan di rumah surganya.

Betapa lapang tangan Allah membuka pintu maaf kepada manusia, bahkan ketika kita sudah melakukan dosa besar sekali pun, tangan Allah tetap dan selalu akan memoles goresan dosa kita untuk kembali menjadi tanah yang halus dan indah, sungguh maha pemurah lagi maha penyayang.

Betapa besar karunia Allah kepada kita umat manusia jika dipandang dari sudut pandang positif, tetapi entah kenapa kita selalu dan senantiasa melihat karunia dan nikmat Allah hanya dari sudut pandang sebelah mata, padahal Allah telah memberikan kita dua mata agar kita mampu melihat setiap masalah dari berbagai sisi.

Tanah liat yang basah tidak akan pernah lari dari polesan manusia untuk dijadikan sebuah benda yang mempunyai kemanfaatan bagi orang disekitarnya. Terpaan Allah kepada kita adalah bentuk kasih sayang-Nya kepada manusia, karena Allah ingin menciptakan hiasan-hiasan yang indah yang akan menghiasi dinding-dinding surga-Nya yang juga akan ia peruntukkan bagi semua makhluk hidup dunia yang bertaqwa kepada-Nya.

Sabtu, 28 Januari 2012


Menggayuh Sepeda Organisasi
Oleh : Imron Wafdurrahman
                

‘Wal takum minkum umatunyad’uuna ilal khoiri wa yak muruuna bil makrufi wa yanhauna anil munkar’.

Lihat, begitu pentingnya peran dari sebuah roda dalam sepeda diantara komponen yang lainnya. Jika sepeda itu ingin dijalankan, maka roda yang ada pada sepeda itu harus diputar. Secara kasat mata digambarkan pengorbanan dari dua buah roda dalam sebuah sepeda itu. Roda itu rela menjadi topangan dan tindihan rangkai sepeda, walaupun berat ia tak pernah mengeluh, meskipun lelah ia tak pernah merintih, ia rela menginjakkan tubuhnya pada kerasnya aspal jalan, ia rela merasakan tidak meratanya permukaan tanah yang dilalui sepeda tanpa sedikitpun merasa iri kepada penggayuh sepeda itu. Dengan semangat konsisten dan dedikasinya kepada rangkai sepeda, ia pun berkorban tanpa keluh kesah demi dapat berjalannya sebuah sepeda itu menuju tujuan dan keinginan yang mulia dari penggayuhnya. Roda merupakan bagian yang sangat vital dari komponen sepeda yang lainnya, karena jika tak ada roda, maka sebaik dan sebagus apapun sepeda itu tetap tidak akan mampu untuk dijalankan.

                Jika diibaratkan sepeda itu adalah sebuah organisasi, maka roda yang menopang jalannya sepeda itu adalah kepengurusan yang ada didalamnya. Baik-buruknya kinerja dan jalan suatu organisasi dapat ditentukan oleh dedikasi dan konsisten dari para pengurusnya. Jika mereka konsisiten dan kompak dalam bekerja maka jalan suatu organisasi itu akan mulus walaupun diterpa berbagai problema yang terjadi, semisal jalan yang tidak rata yang dilalui oleh sepeda organisasi itu atau mungkin ketika roda itu kempes tertusuk benda tajam dari jalanan yang dilalui (problem internal pengurus). 

Jika ban roda itu bocor, maka sepeda itu tetap mampu berjalan tetapi dengan kondisi yang tidak stabil. Malah jika hal itu tidak diperbaiki lebih lanjut dan dibiarkan saja, lama kelamaan sepeda yang melaju itu akan terpental karena ketidakseimbangan antara penopangnya, dalam hal ini adalah kedua buah rodanya yang satu sama lain terdapat perbedaan volume masing-masing.

                Tak jauh beda, suatu organisasi jika tidak ditopang oleh kekompakan kinerja pengurusnya maka organisasi itu akan terombang-ambing dalam perjalanannya menuju tujuan utamanya. Sebelum ban itu tertancap benda tajam dan kemudian kempes, alangkah baiknya kita harus mengendalikan jalannya organisasi itu dengan sangat berhati-hati tidak lengah dengan kondisi trayek didepan sana agar semangat yang terdapat dalam ban roda itu tidak kempes ditengah jalan.

                Masalah internal pengurus merupakan bentuk dan bukti kurangnya perhatian dan perawatan dari sosok peemimpin yang ada dalam suatu organisasi tersebut. Disini seorang pemimpin kurang dapat mengayomi suara dan aspirasi dari penggurus yang lain dan komponen yang ada dalam tubuh organisasi. Ibarat sepeda pemimpin adalah penggayuhnya. Bukan roda yang satu merawat roda yang lain, bukan pula komponen yang satu memimpin komponen yang lain, tetapi pemimpin laju sepeda itulah yang harus senantiasa menjaga keadaaan tiap komponen sepeda agar tetap solid dan terpasang kuat pada tempatnya masing-masing. Ketika mulai kendor, pemimpinlah yang harus menguatkan tiap baut-baut motivasi pengurus, mengencangkan dengan alat yang sesuai dengan tiap komponennya masing-masing (dengan cara yang baik).

                Roda, berputar dan terus berputar. Seperti halnya kehidupan manusia, seperti motivasi dalam tubuh manusia yang selalu berputar mengikuti alur kehidupan yang dilaluinya. Tak ada gading yang tak retak, karena kesempurnaan gading itu karena ada keretakannya. Kesempurnaan kinerja suatu organisasi akan semakin sempurna jika ia mampu mengendalikan keretakan yang mulai timbul dalam tubuh organisasi, dengan menyelesaikan permasalahan internal dari pengurus dengan menebarkan kebaikan padanya. berputarlah dengan lancar, jaga selalu kekompakan dan konsisten pada tempatnya, gayuh dengan kuat roda itu, agar sepeda itu dapat melaju mulus dalam alur perjalanan menuju arah kemana tujuan awalnya.

                Suatu saat, ketika roda itu tak mampu dan sudah tak kuat menopang sebuah sepeda, maka dibutuhkan roda yang baru sebagai penggantinya. Tak perlu khawatir dengan hal itu, karena dengan membengkelkan sepeda itu, maka akan didapatkan komponen pembangun sepeda yang baru dengan semangat yang baru pula untuk dapat memajukan dan menjalankan sepeda itu lebih kencang, stabil, dan konsisten pada tujuannya.

‘Bike to work and work as bike’

Fastabiqul khoirats bil amar makruf nahi munkar, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat dan mampu membaikkan orang-orang disekitarnya.

Rabu, 25 Januari 2012


SEPERCIK MENTARI

Mentari Pagi
relakan cahayamu pergi
Bersama dinginnya hati
Dalam kesunyian raga ini
Terbang berkeliling menginjak
kegaduhan bumi bahagia
Menemani ku, gandeng bersama jiwa
Hangatkan pesona langkah
ku ingin, sekali
Habiskan masa bersama sang mentari
Dari pagi hingga malam nanti
Izinkanlah cahayu pergi
membayangi tiap jengkal langkah
bersama ibu pertiwi
satu kebahagiaan untuk hari nanti

Sabtu, 03 Desember 2011

Jiwa-jiwa yang tercecer, berintegrasi dalam satu ruh

Tak semua lelucon yang keluar dari mulutmu patut ditertawakan !
Diriku mulai teringat akan semua memori catatan akhir sekolah, dimana setiap hari yang akan kulalui, ku memulainya dengan berlari mengeluakan tetes demi tetes peluh hangat sebagai bekal mineral yang dapat membasuh keluh dalam menjalani hari.
Saat mereka semua tersungkur frustasi atas segala penderitaan dan jerit tangis atas semua tragedi nyata yang harus dihadapi. kututup telinga dan kuberlari menggapai segala kemustahilan mereka. dan apa jadinya, ketakutan mereka berujung gores tawa dan tetes air mata.


whathever atas apa yang sekarang kamu katakan (bukan berarti sikap apatis yang aku tunjukkan), setidaknya aku ingin meniru katak tuli yang berhasil menaiki menara.
dengan berjalannya waktu, ceceran jiwa-jiwa yang hilang itu mulai kembali dalam ruh yang lemah ini, penderitaan jerit keluh atas segala peluh. setiap usaha berakhir dengan keluh, setiap langkah terhenti dalam tirani payah, dan setiap tantangan akan terstatiskan dalam kata 'susah'.

'Dan roda itu akan terus berputar', titik nadir dari keterpurukan. Mengeluh adalah kemenangan nafsu dan tangis hati yang pilu. tetapi jiwa yang sejati tak akan menyalahkan raga yang ingin bersandar dalam indahnya 'penghujung remaja'. biarkan semuanya berjalan dalam alur kehidupannya, sesukanya semau mereka, semuanya adalah mahakarya terhebat dalam goresan kanvas dinding kehidupan dunia. itulah dia yang sebenarnya ..

Diriku bukanlah sebuah batang pohon bambu yang akan bergoyang jika terhempas angin, diriku adalah setangkai 'pohon jati yang akan tumbang jika tercabut akarnya'. terpaan dunia takkan mampu goyahkan ranting ideologi dan mimpi yang telah tertanam dalam akar prinsip batang jiwa.

Dan sekarang kutemukan siapa sebenarnya yang telah menanam akar itu dan siapa yang akan mencabut akar itu dari kehidupannya dalam pijakan bumi.
jiwa-jiwa yang tercecer itu telah memupuk kembali dalam ruh yang satu. terhadapmu yang telah memberikan cermin kepribadianku yang telah lama hilang dalam kehidupanku, semoga engkau tahu itu ! *terimakasih.

Semua akan kembali pada yang kuasa, usaha yang kutanamkan dalam jiwa tak akan terhapuskan oleh keluh mulut semata, semuanya bahagia, dan semua akan kunikmati dalam pijakan menyusuri tiap pelosok dunia.
deklarasi kembalinya jiwa-jiwa yang tercecer menuju ruh yang satu, kehidupan yang baru, ideologi yang baru, prinsip yang kembali melebur menjadi satu, berkolaborasi dengan mimpi-mimpi dan semangat pengabdian dan dedikasi terhadap mereka, mereka yang telah menyirami pohon hebat dalam jiwaku dengan nasihat-nasihatnya, yang telah mengembalikan puing-puing jiwa yang tercecer sesaat dalam lembah dunia, kembali tumbuh menyatu dalam ruh yang satu.

Dan semuanya telah kembali, kembali menjadi diriku, diriku yang sebenarnya, sebenar-benar jiwa, bukan jiwa yang dibentuk mereka, tetapi jiwa yang membentuk dirinya.
selamat tinggal kegalauan, selamat tinggal keluh kesah, dan selamat tinggal dosa-dosa hina. aku takkan kembali pada kalian semua. kan kulambaikan tanganku saat aku berdiri pada podium manisnya keringat yang ku teteskan :)

Dan aku menjadi dan akan selamanya bertahan untuk menjadi sosok diriku yang sebenarnya, bukan kamu, dia atau mereka. dan inilah saatnya :)

Bismillah.. pondasiku adalah Al-Qur'an !

Minggu, 27 November 2011

Semarang bercerita

walaupun molor hingga saru setengah jam dari jadwal pemberangkatan yang tertera sebenarnya, kami tetap memendam semangat yang Luaar biasa dalam study perbandingan kali ini.
Sabtu, 26 Nopember 2011 aku dan sebagian pengurus serta anggota UKM Penelitian UNY 2011  mengadakan wisata Ilmiah ke semarang, tepatnya ke kampus UNDIP dan UNNES dan obyek wisata yang memendam unsur mistik yang kental (katanya), sebut saja lawang sewu (padahal nama tidak sesuai dengan realitanya, pintunya kurang dari seribu hhe).
Kemoloroan bukan karena akibat dari pengurus maupun peserta kunjungan itu sendiri, melainkan karena menunggu bapak pendamping kita yang kebetulan sedang sibuk dengan aktiviasnya yang padat.
Tepat 07.00 kami berangkat menuju lokasi kunjungan pertama (Universita Diponegoro). Bersamaan dengan teman-temanku yang kebetulan punya tipikal yang sama, tak kuat berdiam-diaman dalam kesunyian lagu galau hhe, kami duduk di kursi paling belakang di bus (karena kalau dari belakang bisa melihat depan secara keseluruhan tetapi kalau dari depan akan sulit melihat ke belakang hhe)
Sekitar jam 10.30 kami mendapat sambutan hangat dari mahasiswa UNDIP yang tergabung dalam Kementrian riset BEM KM UNDIP (rodok wangun titik, tapi mung jenenge tok hha). Disana kami menghabiskan waktu dengan kegiatan study banding tentang perkembangan dan manajemen alur penelitian dalam kampus masing-masing, perkembangan, kendala, dan prospek tantangan kedepannya untuk kemajuan ilmu penalaran di Indonesia. Bukan indonesia namanya kalau tidak molor, karena perbendaharaan sintaksis dalam bahasa indonesia tidak mengenal tenses, untuk kedua kalinya kunjungan kami molor dari rencana jam 12.00 harus out dari kampus UNDIP tapi kenyataannya jam 13.00 baru sempat keluar dari ruangan tempat dimana kami berdiskusi itu.
Kecewa mungkin iya, tetapi apalah manfaat kekecewaan itu, yang penting dapat mengambil kemanfaatan dari kekurangan tahun ini. jam 13.30 kami berangkat menuju tujuan kedua kami yaitu kampus UNNES.

Baru pertama kali aku dapat mengunjungi kota semarang, bersama kawan-kawan UKM Penelitian UNY ini adalah pengalaman pertamaku menginjakkan kakiku dalam ranah semarang yang ternyata selaras dengan pernyataan dari masyarakat, bahwa semarang itu ternyata memang benar-benar puanaaaaas :p.
Berbeda tipologi dan morfologi dengan kampus UNDIP yang notabene kalau boleh dianalogikan adalah (UGM nya semarang) dan UNNES (yang UNY nya semarang hhe). terdapat perbedaan background yang sangat mencolok diantara kedua kampus tersebut, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri.
UNNES, baru pertama kali dan baru aku ketahui, ternyata nasibnya hampir sama dengan kampus UII di Yogyakarta (bahkan lebih parah), UNNES yang sekarang gempar-gemparnya dengan jargon GO GREEN nya hingga disebut sebagai kampus yang menuju alam. Diatas perbukitan pegunungan yang menjulang langit semarang, jalan yang lumayan sangat ekstrem dan kampus yang keberadaan bangunan dan tumbuhannya hidup berdampingan, berbaur dengan alam. Seperti itulah kampus UNNES, menyatu dengan alam hingga aku sendiri bingung membedakan yang mana kampus dan yang mana hutan hhahaa ..
Asri, sejuk, dan rindang seperti itulah gambaran suasana disana. sambutan yang secermin dengan suasana lingkungan alamnya, mahasiswa UNNES menyambut kunjungan kami dengan penuh semangat empat lima (lalala yeyeye).
Sekitar satu setengah jam kami diperkenalkan dengan embrio dasar UKM Penelitian disana. Walaupun baru embrio tetapi telah menelurkan keping emas yang luar biasa, PIMNAS 2011 mereka dapat mengalungkan emas di peringkat ke tiga umum, sungguh prestasi yang luar biasa, dikala kita terperosok mereka menjulang prestasi (mungkin itulah kenyataan yang harus kami terima tahun itu). Berbagi pengalaman dan sharing tentang penelitian dan prospek perkembangannya kedepan, kita menghabiskan waktu berdiskusi selama satu setengah jam disana. tepat pukul 16.30 bus kami arahkan menuju kunjungan ilmiah kita yang terakhir dikota semarang, tepatnya dipusat kotanya. Menuju lokasi yang sudah terkenal dengan kemistikan dan keangkeran arsitektur bangunannya, ya apa lagi kalau bukan lawang sewu.

Sore-sore ke lawang sewu, kepriye rasane ? kalau nanti ada apa-apa njuk piye ? hhahahaa ... itu hanya anggapan orang yang percaya tahayul dan khurofat (bagian dari penyakit TBC hhe). Bagiku siang sore malam sama aja yang penting kalau dijalani bersama-sama pasti ngga takut *loh? Hhaha ..

Memang benar, sekilas melihat bangunan tuwa bekas kantor stasiun jaman belanda itu mengandung aura yang berbeda dengan bangunan yang lainnya, seakan-akan ada kadut kelam yang membayangi bangunan itu jika dilihat dari kejauhan (that’s just my feeling guys). Kami injakkan kaki di bangunan itu, tuwa tetapi sebagian sudah dimudakan dengan polesan modern menimbulkan tonjolan estetis dalam bangunan itu, tetapi disebagian sisi yang lain masih tekandung unsur kemistikan nya.

Lorong bawah tanah? ya tempat itulah yang menjadi momok bahan pembicaraan, penjara dan tempat pengeksekusian masyarakat indonesia oleh tentara-tentara jepang pada jaman dahulu. Dan yang paling menarik medan magnet untuk menyusuri ruang bawah tanah itu adalah dibawah sana merupakan tempat dahulu yang pernah digunakan sebagai syuting dunia lain di salah satu televisi swasta di indonesia (kan pastinya angker kalau begitu). Yap, walaupun harus merogoh uang sebesar 10rb aku rela mengeluarkannya, jika dari itu aku mendapatkan kemanfaatan yang luar biasa (bagiku oleh-oleh yang paling berharga dan takkan pernah mati adalah pengalaman, karena kita tak mungkin mengalaminya untuk kedua kalinya).
Bersama teman yang lainnya (pak dosen wae melu mlebu kok hhe), kami susuri lorong bawah tanah dari lawang sewu, kami diwajibkan memakai sepatu boat karena lantai tanah dalam lorong tersebut merupakan bekas jalan gorong-gorong air yang sekarang juga masih berfungsi. Dengan beracuan arahan dari guide yang memberi penjelasan tentang berbagai ruang sisi dan fungsi dari berbagai sudut bangunan tua itu kami menyusuri kotak demi kotak lorong itu. Pengap dan berbau gas, dan yang pasti dag dig dug pikiranku berjalan dalam lorong mistik dunia lain itu. dikala matahari mulai menenggelamkan sinarnya kok malah kita baru memulai adventur perjalanan mistiknya (ben tambah joss suasananya hhahaa).
Gambaran lokasi bawah tanah itu, disana ada sekat-sekat yang digunakan sebagai penjara bawah tanah, ada penjara duduk ada juga penjara berdiri, ada juga meja besi sebagai landasan eksekusi pancung (entah kenapa ruangan itu terkunci rapat dan ditutup untuk umu,??). \
Sesekali kami harus menundukkan kepala untuk menyusuri lorong-lorong tua itu, terkadang penjelasan yang dipaparkan oleh bapak guide itu membuat bulu kulit kami berdiri otomatis, jantung kami berdetak kencang dalam persembunyiannya.  membuat diriku semakin tertarik untuk menggali dan terus menggali rahasia dari lawang sewu itu sendiri (padahal yo podo-podo wedi hhahaa).
Stop, kami duduk sejenak pada tempat dimana dugunakan sebagai lokasi uji nyali dunia lain, guide bercerita dan bercengkrama dunia lain di tempat yang sesuai dengan suasana penggambarannya. (jarene nang kene sok kesurupan bagi sing ora kuat, sering banget katanya yang perempuan) hahahhaaa modar koe sing wadon dag dig dug duaaarr ... !!!
tapi, mungkin karena anak-anak UKM Penelitian itu yang notabene religius dan taat beragama hhe, alhamdulillah didalam sana kami tidak mengalami suatu hal yang dikhawatirkan oleh sang guide tersebut. ditempat itu kita malah mengabadikan moment seperti itu untuk berfoto bersama (bersama? bersama siapa? *hantu? hhahhaa).
Sekitar 20 menit menyusuri ruang bawah tanah lawang sewu, singkat cerita kami naik kembali kedaratan udara (karena dalam lorong itu udaranya minoritas daripada kuota airnya sendiri), legoo rek rasane akhirnya kembali juga kedaratan udara yang bebas, alhamdulillah ya ^^

Suatu oleh-oleh magis yang luaar biasa, pernak pernik maupun aksesoris pun kalah dengan itu. Pelajaran yang mempelajarkan kita tentang sejarah perjuangan dan pengorbanan pahlawan indonesia, yang dibingkai dengan unrus mistis yang kental, jajanan pengalaman yang akan senantiasa manis jika kita ceritakan pada sahabat dan keluarga kita yang belum pernah mendapatkannya. Ini ceritaku, apa ceritamu :p

kesimpulan yang saya dapatkan dari rangkaian kunjungan kami ke semarang adalah belum kesemarang kalau belum merasakan lorong bawah tanah lawang sewu hahahahahahaa ..

Gali ilmu dengan pengalaman, kembangkan pengalaman dengan penelitian ^^


Rabu, 23 November 2011

hatiku mengeluh, ketika jiwa menggayuh


ketika mulut berbicara :
hhaha ..
aku ingin tertawa dalam dunia
melihat semua realita nyata didepan mata
tak semua berjalan dalam rel kebenaran perasaan hatinya
tak seluruhnya berkompetisi dalam ajang kebaikan nurani
saling smash dalam menuai amanah
saling tuduh jika ia mulai terjatuh.

dikala hati mempunyai mulut
ia ingin mengutarakan keluhnya,
terkadang..
ia ingin protes kepada jiwanya sendiri
sebagai pendamping komponen tubuh hidupnya.
kenapa semua harus kamu
kenapa beban harus terpundak olehmu
kenapa segala amanah engkau mau
tidakkah engkau kasihan terhadap dirimu yang pilu
rintihan tangan, kaki, dan tubuhmu ?
engkau juga ingin seperti mereka bukan ?
berjalan, bermain, dan bergembira
hakekat semuanya sama
makhluk yang disebut manusia
memperoleh kebahagiaan yang nyata
tetapi engkau ? kenapa tidak ingin memperolehnya ?

dan kenapa,
serta mengapa ?
ketidakadilan hidup berbicara dalam dunia
jika engkau sebagai hati, kau pasti akan merasakan
aku ini ingin bebas, aku juga ingin berlari
kencang menembus angin
terhempas dalam sayup udara yang bergerak
hembusan angin dunia yang indah
tetapi,
mengapa engkau enggan melakukannya sebagai jiwaku
aku menangis melihat engkau bersiksa dalam kebahagiaan mereka
aku ini berperasaan semu
tak kuat menahan pengorbananmu
sakit, hati dalam hatiku melihat pengorbananmu !

ketika kau terjatuh
tak ada yang mengeluh
ketika peluh mengucur, entah siapa yang mau membasuh
pasang mata hanya melihat hasil
mengabaikan proses.
matanya terbuka tetapi hatinya buta
tak sadarkan otaknya
dari keberhasilan itu, ada jiwa yang menangis peluhnya
merintih jiwanya, lemah kakinya dalam rinai kebahagiaan
apa yang ia dapatkan
sekedar mencicipi masakan keringatnya ?

namun apa yang jiwa kata kepadaku sebagai hatinya ?
aku akan tetap menggayuh dan menggayuh
mengambil air kemuliaan dan mengalirkannya
kesawah-sawah rindang yang menghidupi manusia

namun, ketahuilah wahai jiwaku
aku adalah seorang hati yang tak kuat melihat jiwaku sakit
air mataku tertetes lesu
ingin menangis karena pengorbanan tubuhku
yang ikhlas menyayangi dan mengayomi
semua hal yang membuatku menjadi syahdu

yaa..
itu hanya butiran kecil celoteh hati yang ingin berbicara
setidaknya ingin meringankan beban jiwanya
jiwa yang lemah karena usaha yang tersembunyi
bermandikan peluh dikala mereka berselimut sunyi
namun perlu hati sadari
Allah maha adil
semua langkah, gerak, dan tingkah tubuh ini
semuanya hanya untuk beribadah
memanjatkan keikhlasan
peluh terkucur deras, kan jadi air minum dalam neraka
ikhlas yang tersembunyi dalam hati
kan jadi penunjuk jalan menuju surga ilahi

jadi engkau hatiku
cukuplah engkau tersenyum tersipu
semua usaha dan pengorbanan
jiwa ikhlas bukan untuk dipuji
jiwa rela
dan jiwa menikmatinya
pahamilah duhai hatiku
kebaikan manusia adalah untuk membaikkan manusia yang lain
semua masalah tak perlu dipermasalahkan
hanya butuh penyelesaian
menyelesaikan apa yang menjadi permasalahan walaupun kita tebelit masalah yang tak kunjung selesai
kebaikan kita akan terasa di mata orang lain
keikhlasan mulia akan ringankan dosa dalam mizan akherat
dan kebaikan kita akan terbingkai keikhlasan
sebagai kado persembahan untuk tuhan
saat mata jiwa dan hati ini sudah mulai terpejam